Get Adobe Flash player
Pencarian

Pujian Favorit

Pengunjung Online
1304602
Pengunjung hari ini : 138
Total pengunjung : 352423
Hits hari ini : 310
Pengunjung Online : 1
Link
Informasi
  • - Katekisasi Baptisan Air 9x pertemuan setiap Kamis, dimulai Kamis, 27 September 2018 pukul 18.00 WIB

  • - Baptisan Air, Minggu 25 November 2018 Ibadah Umum ke-2 Pukul 09.00

  • - Telah berpulang ke rumah Bapa di sorga PDT. EMMA SETIAWAN dalam usia 82 Tahun pada Kamis, 26 Maret 2

  • - Tifara On Air 94.3 FM support by Immanuel FM - peaceful station -

  • - sekretariat GBIS Kepunton - Jl. AR Hakim 49 Surakarta

Diposting oleh : HannyTan Kategori: Chumani - Dibaca: 506 kali

DOSA TERHADAP GIBEON
(II Samuel 21 : 1-14)

 

 

Hampir seluruh keluarga Saul bahkan Bangsa Israel mengalami celaka. Bangsa Gibeon menggunakan akalnya untuk mendapatkan perdamaian dengan Bangsa Israel. Saul tidak menyukai Bangsa Gibeon karena tidak menginginkan bangsa kafir berada di tengah-tengah Bangsa Israel. Namun anehnya akibat dari perbuatan Saul ini dirasakan atau melanda Bangsa Israel setelah Saul tidak memimpin Bangsa Israel.

Tuhan menunjukkan kesalahan Saul kepada Daud, dan akhirnya Daud melakukan pendamaian kepada Bangsa Gibeon; serta mengakui kesalahan yang sudah dilakukan Saul. Sehingga pertolongan Tuhan turun menyelamatkan Bangsa Israel.

Kita tidak mungkin menderita terus-menerus, sebab Tuhan senantiasa memelihara umat-Nya dan pasti akan turun tangan menolong kita. Semua yang kita alami pasti ada sebabnya dan tidak ada yang kebetulan. Penderitaan kita akan berlarut-larut kalau tidak dicari akar permasalahannya. Berusaha dengan kekuatan sendiri, masalah justru tidak selesai-selesai dan menderita sampai berlarut-larut.

Apa hubungan dosa Saul terhadap Bangsa Gibeon dengan bencana kelaparan pada zaman Daud? Jika menggunakan akal dan logika sendiri, maka mungkin tdak ada hubungannya. Jika menggunakan akal dan logika, bencana kelaparan yang melanda karena ada sistem pengaairan yang tidak beres saat itu. Kita akan gagal menyelesaikan masalah jika kita mengandalkan akal dan logika kita.

Bertanya-tanyalah kepada Tuhan, Tuhan yang akan menunjukkan penyebab yang sebenarnya. Jangan mencoba menyelesaikan masalah dengan kekuatan sendiri, justru dengan cara itu maka masalah akan berlarut-larut dan semakin lama kita menderita.

Tuhan tidak ingin kita sengsara dan binasa dalam persoalan, Tuhan pasti akan menjawab dan memberikan jalan keluarnya.

Jika masalah yang sedang kita hadapi dikarekan kita salah, maka segera bertobat. Jika masalah yang sedang kita hadapi adalah ujian, maka bertahanlah. Hadapi segala permasalahan dengan bertanya-tanya satu sama lain (I Korintus 12:21-26).

Jangan sembarangan berani berbuat dosa dan melawan Firman Tuhan. Perbuatan dosa, apa pun alasannya, tetap saja orangnya sedang melawan Allah, Hakim yang Adil.

Saat Daud berani menanggung kesalahan Saul, maka bencana kelaparan yang melanda Bangsa Israel berhenti. Segera mengaku jika melakukan kesalahan. Mau bertobat dan mengaku dengan kesadaran sendiri maka kemurahan Tuhan ada di atas kita.

Pengakuan bisa menyelesaikan masalah, bisa memutuskan ikatan dosa dan kutuk (Yakobus 5:16). Penderitaan mengaku hanya sekejap saja jika dibandingkan penderitaan tidak mau mengaku yang bisa sampai bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

 

sumber : Pdt. Jonatan Jap Setiawan di GBIS Kepunton, 17 September 2017