Get Adobe Flash player
Pencarian

Pujian Favorit

Pengunjung Online
1181221
Pengunjung hari ini : 45
Total pengunjung : 314179
Hits hari ini : 65
Pengunjung Online : 1
Link
Ads by Google
Informasi
  • - Camp Pria Sejati diadakan 21-23 September 2017

  • - Doa Malam - Selasa, 5 September 2017 pukul 19.30

  • - Ibadah Wanita - Senin 4 September 2017 - Pembicara: Ibu Trifena Yuliati

  • - Penyerahan Anak dilaksanakan Minggu, 17 September 2017 di ibadah ke-2 pkl 09.00

  • - Baptisan Air dilaksakan Minggu, 26 November 2017 setelah Ibadah ke-2 pukul 09.00

Diposting oleh : HannyTan Kategori: Chumani - Dibaca: 76 kali

KASIH KARUNIA-NYA
(II Korintus 12:1-10)

 

 

Ada kalanya satu-satunya yang kita inginkan justru malah satu-satunya yang tidak pernah kita dapatkan. Kadang kita berharap dan kecewa, berusaha dan gagal, menginginkan sesuatu tapi tidak selalu mendapatkannya. Tidak semua doa keinginan-tujuan akan terpenuhi, karena ada kalanya Allah berkata "TIDAK". Dan pada saat Allah berkata tidak, bagaimana sikap kita? Apakah Allah tetap Allah yang baik pada saat IA berkata tidak?

Rasul Paulus bergumul dengan masalah tersebut, ia tahu bagaimana rasanya dijawab tidak oleh Allah. Rasul Paulus berkata bahwa ia diberi suatu duri dalam dagingnya, dan sudah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan iblis itu mundur dari padanya dan Rasul Paulus tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Tetapi jawaban Allah kepada Rasul Paulus "Cukuplah kasih karuniaKU bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKU menjadi sempurna" (Korintus 12:9).

Sesungguhnya Allah memberi Paulus bukan duri melainkan kasih karunia. Kasih karunia yang menguatkan adalah pemberian Allah yang berupa keberanian, iman, penyertaan dan kekuatan-NYA yang membuat kita mampu menghadapi tragedi-impian yang hancur-penyakit-ketakutan serta ketidakmampuan yang terus menerus mengancam kita.

Mengapa Allah tidak menyingkirkan duri kita? IA mungkin menghendaki kita bersandar pada kasih karunia-NYA dan bukan pada kekuatan kita sendiri. Mengapa Allah tidak menjauhkan orang-orang yang menjengkelkan dari hidup kita? IA mungkin menghendaki kita mengasihi seperti IA mengasihi. Mengapa Allah tidak menghilangkan kelemahan fisik kita? IA mungkin menghendaki supaya kita tahu bahwa kita tetap dikasihi dengan segala kelemahan kita. Mengapa Allah tidak menyembuhkan kita? IA mungkin menghendaki supaya kita menjadi peka terhadap orang yang lemah-tak berdaya dan sakit. Rasul Paulus menyadari mengapa Allah tidak mengambil duri dalam dagingnya, supaya Rasul Paulus tidak meninggikan diri (II Korintus 12:7).

Kasih karunia Allah yang menguatkan diberikan kepaada kita pada waktu yang kita butuhkan. Kasih karunia Allah yang menguatkan dalam kelemahan memampukuan kita untuk menjadi alat yang berkuasa di dalam tangan Allah. Kasih karunia Allah yang menguatkan memampukan kita untuk bangkit mengatasi keadaan kita. Kasih karunia Allah yang menguatkan membuat kita mampu melihat adanya maksud lain yang terbaik bagi kita. Dalam kenyataan yang tidak seperti yang kita harapkan jangan bertanya "Mengapa hal ini terjadi padaku?" tetapi bertanyalah "Apa yang dapat kupelajari dari semuanya ini?".

Kasih karunia Allah tidak hanya membuat Rasul Paulus mampu menerima penderitaannya tetapi bahkan bersukacita didalamnya. Penderitaannya bukanlah tuan yang menguasainya melainkan hamba yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan baginya. Meskipun permohonan kita ditolak, IA tetap sanggup melakukan perkara besar di dalam dan melalui hidup kita. Kasih karunia yang menyelematkan kita juga memelihara kita. Segala yang terjadi pada anak Allah tak lupt dari tangan Allah mahakasih.

 

 

KARENA ITU AKU SENANG DAN RELA DI DALAM KELEMAHAN, DI DALAM SIKSAAN, DI DALAM KESUKARAN, DI DALAM PENGANIAYAAN DAN KESESAKAN OLEH KARENA KRISTUS. SEBAB JIKA AKU LEMAH, MAKA AKU KUAT.
(II Korintus 12:10)