Get Adobe Flash player
Pencarian

Pujian Favorit

Pengunjung Online
1167700
Pengunjung hari ini : 44
Total pengunjung : 309504
Hits hari ini : 90
Pengunjung Online : 1
Link
Ads by Google
Informasi
  • - Konser Doa Anak - Kamis, 17 Agustus 2017 pukul 14.30-16.30

  • - Penyerahan Anak dilaksanakan Minggu, 18 Juli 2017 di ibadah ke-2 pkl 09.00

  • - Baptisan Air dilaksakan Minggu, 21 Mei 2017 setelah Ibadah ke-2 pukul 09.00

  • - Katekisasi Baptisan Air 9x pertemuan mulai Kamis, 28 Maret pukul 18.00 WIB

  • - Telah berpulang ke rumah Bapa di sorga PDT. EMMA SETIAWAN dalam usia 82 Tahun pada Kamis, 26 Maret 2

Diposting oleh : HannyTan Kategori: Chumani - Dibaca: 94 kali

ROH KUDUS
(Markus 16:17)

 

 

Bagaimana menjaga Roh Kudus tetap tinggal di dalam hidup kita? Kuncinya adalah PERCAYA kepada Tuhan Yesus. Bahasa Roh merupakan tanda dari baptisan Roh Kudus, dan bahasa Roh merupakan karunia yang diberikan Tuhan. Bahasa Roh adalah pesan Tuhan, maka harus dapat ditafsirkan agar dipahami setiap orang percaya. Bahasa Roh ada akan tetapi tanpa kasih semuanya adalah sia-sia.

Meskipun Bahasa Roh dimengerti malaikat-malaikat surga, akan tetapi bahasa Roh bukan digunakan untuk memerintah; hanya Tuhan yang berkuasa memerintah malaikat-malaikatNYA. Yang dapat kita lakukan adalah berdoa dan menyembah Tuhan di dalam Roh.

Bahasa Roh adalah bahasa doa, sebagai bahasa doa maka Bahasa Roh membangun kerohanian diri kita sendiri (I Korintus 14:4). Praktekkan bahasa Roh dalam hidup kita (I Korintus 14:14-15).

Di saat kita di dalam kelemahan dan berdoa di dalam Roh maka kita sedang membangun diri kita dan menggali kuasa Tuhan di dalam diri kita. Bahasa Roh menjadi salah satu keintiman hubungan kita dengan Tuhan (I Korintus 14:2). 

Bahasa Roh membawa kita ke dalam pemberhentian (Yesaya 28:10-13), kita di bawa pada masa peristirahatan di tengah kelelahan kita. Di saat doa kita tidak lagi dapat terucapkan, maka Roh Kudus sendiri berdoa untuk kita sesuai dengan kehendak Allah bagi orang-orang kudus; orang-orang yang percaya kepadaNYA. (Roma 8:26-28).

 

sumber : Pdt. Theofilus Hendra di GBIS Kepunton, 11 Juni 2017